URGENSI
BERTANYA
Sebagai muslim, kita sangat dituntut untuk mengetahui dan
memahami banyak persoalan dan ilmu pengetahuan. Semakin banyak ajaran Islam yang kita
pahami, insya Allah semakin banyak pula yang bisa kita amalkan, karena mengamalkan ajaran
Islam itu harus didahului dengan pemahaman, sementara semakin sedikit yang kita pahami
dari ajaran Islam, makin sedikit pula yang bisa kita amalkan, apalagi belum tentu semua
yang kita pahami dari ajaran Islam secara otomatis bisa kita amalkan dalam kehidupan ini.
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui dan
memahami suatu persoalan, termasuk di dalamnya ajaran Islam. Salah satunya adalah dengan
bertanya. Karena itu bertanya menjadi sesuatu yang amat penting. Bahkan pribahasa kita
menyebutkan: Malu bertanya, sesat di jalan.
Untuk mengetahui kadar pengetahuan seseorang, kedewasaan
pribadinya, bahkan pengalaman hidupnya bisa kita ketahui dari bagaimana seseorang itu
mengajukan pertanyaan. Begitu pula halnya dengan ajaran Islam. Bobot pertanyaan, kedalaman
jiwa dalam berislam hingga apa sebenarnya yang dikehendakinya bisa terlihat dari
pertanyaan para sahabat tentang berbagai persoalan kepada Rasulullah Saw dan ini erat
kaitannya dengan turunnya suatu ayat atau surat di dalam Al-. Ada banyak faktor yang
menyebabkan turunnya suatu ayat atau surat, faktor-faktor inilah yang disebut dengan
asbaabun nuzul (sebab-sebab turunnya) Al-Qur'an. Salah satu sebab dari turunnya ayat atau
surat di dalam Al-Qur'an adalah adanya pertanyaan dari para sahabat tentang berbagai
persoalan, karena itu ada banyak ayat yang dimulai dengan yasaluunaka (mereka bertanya
kepadamu) atau wa idza sa'laka (apabila kamu ditanya).
DIBALIK PERTANYAAN.
Ketika menafsirkan ayat-ayat yang dimulai dengan
kalimat-kalimat pertanyaan, Sayyid Qutub dalam kitab tafsirnya Fii Dzilalil menyebutkan
bahwa pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan banyak hal. Pertama, sifat keterbukaan wahyu,
perkembangan gambaran kehidupan dan hubungan-hubungannya serta munculnya
persoalan-persoalan baru dalam masyarakat. Kedua, bangkitnya perasaan keagamaan, pengaruh
dan dominasi aqidah terhadap jiwa kaum sehingga mereka tidak mau melakukan sesuatu kecuali
setelah mendapatkan kemantapan dari pandangan peraturan dalam aqidahnya. Ketiga, tidak
mudahnya kaum muslimin terpengaruh oleh provokasi yang dilakukan orang-orang kafir guna
menanamkan keraguan ke dalam jiwa kaum muslimin hingga sampai menyesatkan mereka, karena
mereka segera bertanya atas apa-apa yang mereka ragukan dari penyataan orang kafir itu
yang berkaitan dengan amal di dalam Islam.
Dengan demikian, memiliki semangat bertanya merupakan
sesuatu yang amat penting bagi kaum muslimin, dengan bertanya apa yang belum diketahui
menjadi mudah diketahui, apa yang belum jelas menjadi jelas dan apa yang diragukan menjadi
tidak perlu diragukan lagi, bahkan dengan bertanya kita pula bisa mendapatkan jawaban atas
penjelasan yang jauh lebih luas dari apa yang kita perkirakan. Ini semua menunjukkan bahwa
para sahabat Nabi adalah orang-orang yang selalu ingin menyesuaikan diri dengan segala
ketentuan Allah Swt sehingga untuk menghindari terjadinya penyimpangan atau mengambil
kesimpulan sendiri secara salah pertanyaan diajukan untuk mendapatkan petunjuk jalan yang
benar.
Salah satu dari sekian banyak ayat yang turun dengan
sebab adanya pertanyaan dari sahabat adalah firman Allah yang artinya: Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah
dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku
dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS
2:186).
Ayat tersebut turun karena ada sahabat yang bertanya
tentang Allah itu jauh atau dekat. Rasulullah Saw balik bertanya: "Mengapa engkau
bertanya demikian"? Sahabat
menjawab: "Ya Rasul, kalau jawaban engkau bahwa Allah itu jauh, saya akan berdo a
kepada-Nya dengan berteriak dan suara keras, tapi bila jawaban engkau bahwa Allah itu
dekat, saya akan berdoa dengan
suara yang datar atau rendah". Maka turunlah ayat itu untuk menegaskan bahwa Allah itu pada hakikatnya dekat
dengan manusia.
Bentuk-bentuk pertanyaan dari para sahabat tidak hanya
menyebabkan turunnya suatu ayat atau surat di dalam Al-, tapi juga terungkapnya hadits
dari Rasulullah Saw yang di dalam ilmu hadits disebut dengan asbabul wurud. Pertanyaan
dari para sahabat membuat Rasulullah Saw memberikan jawaban-jawaban yang sangat berharga,
tidak hanya bagi para sahabat pada masa itu, tapi juga kita semua pada masa sekarang.
Diantara contoh hadits yang terkait dengan pertanyaan sahabat adalah yang artinya: Seorang
Arab Badui bertanya: "Kapankah tiba hari kiamat"? Nabi menjawab: "Apabila amanah telah diabaikan, maka
tunggulah kiamat itu". Orang
itu bertanya lagi: "Bagaimanakah disia-siakannya amanah itu? Nabi Saw menjawab:
"Apabila suatu perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka
tunggulah kiamat". (HR.
Bukhari).
METODE DIALOG
Dari ayat dan hadits di atas serta dalil-dalil lain yang
tidak mungkin ditulis semua dalam kolom yang terbatas ini, kita bisa mengambil pelajaran
yang sangat berharga betapa para sahabat merupakan orang-orang yang suka bertanya dan
Rasulullah Saw juga senang dengan pertanyaan para sahabat, ini berarti terbuka kesempatan
berdialog yang begitu luas pada masa Rasulullah Saw, bahkan dialog itu memang menjadi
salah satu metode dalam da'wah dan pendidikan. Sebagai pemimpin, Rasulullah Saw
mengembangkan dialog sehingga dari sini Rasulullah Saw juga mendapatkan masukan-masukan
atau ide-ide cemerlang yang sedemikian berharga dalam mensukseskan perjuangan. Salman Al
Farisi, ketika mendengar penjelasan Rasulullah Saw bahwa strategi perang yang akan
dilakukan adalah bertahan dengan menunggu serangan musuh untuk selanjutnya dihalau, maka
beliau bertanya kepada Rasulullah: "Apakah strategi ini memang berdasar wahyu atau
gagasan engkau secara pribadi?" Rasul menjawab: "Ini bukan berdasar wahyu". Maka Salman mengusulkan agar tidak sekedar menunggu serangan, tapi
harus membuat perangkap berupa parit dan usul inipun disepakati sehingga digalilah parit
sebagai perangkap yang membentengi kaum muslimin, maka perang inipun disebut dengan perang
khandaq (parit).
Dalam mendidik anggota keluarga, menciptakan suasana yang
dialogis merupakan sesuatu yang amat penting sehingga kesadaran melaksanakan sesuatu yang
baik dan benar tumbuh dari dalam jiwa masing-masing anggota keluarga, bahkan kita bisa
mengetahui tidak hanya kesadaran yang tinggi, tapi ada nilai plus yang sama sekali tidak
kita duga, inilah yang pernah dialami oleh Nabi Ibrahim As ketika berdialog dengan
anaknya, Ismail As dalam menyampaikan perintah Allah Swt untuk menyembelih sang anak
kesayangan itu. Ismail ternyata bukan hanya mempersilahkan bapaknya untuk melaksanakan
perintah Allah, tapi nilai plus yang ditunjukkannya adalah bahwa kebaikan yang
dilakukannya ini belumlah seberapa dibandingkan kebaikan generasi terdahulu, dalam hal ini
adalah kesabaran, peristiwa yang mengagumkan ini difirmankan oleh Allah yang artinya: Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka pikirkanlah apa pendapatmu?". Ia menjawab: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu;
insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".(QS 37:102).
Dari penjelasan di atas, menjadi semakin jelas bagi kita
betapa bertanya dan berdialog itu menjadi amat penting. Untuk memperbaiki diri kita
masing-masing kita perlu memulai dengan bertanya dan berdialog kepada diri kita sendiri,
inilah yang disebut dengan muhasabah (introspeksi diri). Pertanyaan yang harus kita ajukan
pada diri kita antara lain: darimana saya berasal, untuk apa saya hidup, kemana saya akan
kembali, apa saja yang sudah saya lakukan, apakah lebih banyak keshalehan daripada
kesalahan yang saya tunjukkan, apa yang semestinya saya lakukan, bagaimana seharusnya saya
menjalani kehidupan dan seterusnya.
Akhirnya, menjadi keharusan bagi kita untuk mengembangkan
suasana yang dialogis dan amat penting bagi kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
pertanyaan dalam upaya meningkatkan kualitas perjalanan hidup yang singkat ini.
Drs. H. Ahmad Yani |