HIJRAH
DAN REFORMASI
Hari ini, Senin 1 Muharrom 1422 H, merupakan hari
bersejarah bagi ummat Islam. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan, hari ini adalah hari
paling bersejarah dalam rentetan perjalanan sejarah ummat. Hari di mana Rasulullah dan
serombongan sahabatnya memulai suatu tekad dan komitmen baru, untuk bangkit kembali
setelah melalui fase yang sangat berat bahkan mengalami stagnasi. Tekad dan komitmen baru
ini yang kemudian secara simbolik dilakukan dengan perpindahan ke sebuah tempat (Yatsrib)
yang kemudian berubah menjadi "pusat peradaban" (Madinah).
Setelah terbukanya kota Mekah (Fathu Makkah),
sesungguhnya tidak ada lagi hijrah secara fisik. Perpindahan dari satu tempat ke tempat
lain dengan niat hijrah tidak lagi diperkenankan dalam agama (Laa hijrata ba'dal fathi).
Namun demikian, secara substansial, anjuran hijrah tetap berlaku sepanjang zaman, selama
hayat di kandung badan. Oleh sebab itu, kendati di satu sisi Rasulullah melarang hijrah
dengan hadits di atas, namun di sisi lain, berbagai ayat tetap mengangkat derajat
orang-orang yang konsisten dengan melakukan hijrah (Falladziina haajaru wajaahaduu,
ulaaika a'dzamu darajah).
Eep Saifullah Fatah, dalam uraian Tahun Baru yang
disampaikan di New York kemarin menyimpulkan bahwa ummat Islam di Indonesia yang saat ini
hidup di tengah derasnya arus perubahan (yang diistilahkan dengan besi panas) mengalami
empat hal; repolitisasi, reintegrasi, refragmantasi dan pengulangan terhadap kekeliruan
politik di masa lalu. Mengutip ulasannya terdahulu tentang beberapa kesalahan ummat Islam,
Eep kembali menyampai empat kekeliruan ummat Indonesia; pertama, suka kerumun tapi tidak
tahu menciptakan barisan (shaf). Kedua, pandai marah namun tidak dapat melakukan
perlawanan (muqawamah). Ketiga, bersemangat menciptakan organisasi namun tidak pintar
membuat jaringan. Keempat, terlalu sibuk dengan kulit namun gagal membenahi isi (sathy).
Eep juga menyatakan bahwa teori "konspirasi"
terkadang hanya menjadikan ummat terlupa bahwa sesungguhnya perubahan itu hanya akan
terjadi jika ummat ingin memulai membenahi dirinya sendiri (Innallaha laa yughayyiru maa
biqaumin hatta yughayyiru maa bianfusihim). Ummat terkadang terlalu terkooptasi sengan
sebuah persepsi bahwa kegagalan ummat Islam karena disebabkan oleh sebuah "outsider
grand makar", yang hanya melahirkan kemarahan pada pihak lain, namun gagal
menyadarkan ummat untuk melakukan pembenahan secara ke dalam.
Untuk itu, ada beberapa agenda mendesak yang harus
dilakukan oleh ummat ke depan; pertama, menyokong reformasi menyeluruh yang ditandai
dengan terjadinya kepemimpinan yang otentik (Imam 'Adil), perubahan karakter kekuasaan,
perubahan sistem serta yang terpenting terjadinya perubahan paradigma ummat. Kedua,
perlunya ummat ini membangun publik yang kokoh, yang memiliki sense of "Amr ma'ruf
nahi mungkar". Ketiga, urgensi membangun oposisi permanen, yang diartikan sebagai
kelompok yang selalu melakukan "tawashaw bilhaqq watawashaw bisshabar".
Pada akhirnya ditegaskan bahwa dari sekian banyak hal
yang perlu dibenahi oleh ummat ini, pendidikan menjadi prioritas terpenting. Kesalahan
dalam melakukan pendidikan terhadap ummat menjadikan banyak dari kalangan ummat ini yang
tidak mampu melakukan idealisasi, melainkan idolisasi (dari kata idol/berhala), termasuk
pemberhalaan perhadap figuritas tertentu yang akhir-akhir ini marak terjadi.
Pilar-Pilar Hijrah.
Terlepas dari perdebatan diskusi tentang istilah, uraian
Eep sesungguhnya telah menggambarkan esensi hijrah dengan sangat baik. Membaranya besi
Makah (penyiksaan, kezaliman dan berbagai penyelewengan terhadap pengikut rasulullah)
ketika itu, menjadikan Rasulullah SAW diperintahakn untuk melakukan perpindahan syar'I
(hijrah) dari Mekah ke Madinah. Perpindahan ini sendiri adalah awal dari tekad perubahan
atau dalam istilah apapun (reformasi, tajdid, islah, dll.) dari situasi yang tidak
menguntungkan kepada situasi yang lebih menguntungkan. Dari situasi yang stagnan terhadap
situasi yang lebih dinamis. ? Tulisan kali ini hanya menggambarkan poin per poin
pilar-pilar hijrah yang harus dilakukan ummat ini dari masa ke masa:
Pertama: Hijrah 'aqadiyah.
Yaitu tekad dan komitmen penuh untuk melakukan hijrah
dari berbagai "tuhan" dalam hidup kita, termasuk tuhan-tuhan tokoh, harta,
kedudukan, persepsi, dll. Menuju kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, Allah SWT. Barangkali,
wacana ketuhanan Ibrahim akan sangat membantu kita dalam hal ini. Ibrahim memulai
menemukan tuhannya dalam bentuk bintang-bintang. Namun karena timbul bulan yang
kelihatannya lebih besar dan bersinar, ia pun memiliki keberanian untuk mengetakan
"no" kepada bintang-bintang tersebut. Beberapa masa kemudian, ternyata bulan
seolah mengilang dari pancaran mentari yang bersinar. Maka dengan kebesaran jiwa yang
dimilikinya, Ibrahim mampu melepaskan diri dari mempertuhankan bulan menuju kepada
keyakinan akan ketuhanan matahari. Tapi tatkala matahari tenggelam, ia pun berkesimpulan,
"inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati walardh haniifan musliman wa maa ana
minal musyrikiin". Proses pencapaian kemurnian akidah Ibrahim ini adalah contoh
kongkrit yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Betapa kekaguman kita terhadap seorang
tokoh misalnya, namun jika pada akhirnya fakta mengharuskan kita untuk mengambil sikap
bersebelahan, maka kita harus melakukannya. Sikap sebagian ummat selama ini, yang
cenderung mengidolasasikan (memberhalakan) pemimpin seudah masanya diilhami oleh hijrah
(perpindahan positif) ke arah yang lebih positif.
Kedua, Hijrah Ta'abbudiyah.
Yaitu tekad dan komitmen penuh dari ummat ini untuk
melakukan perubahan konsepsi terhadap ibadah dalam Islam. Selama ini, ummat masih memahami
makna ibadah sebagai kegiatan-kegiatan ritual yang terlepas dari masalah-masalah sosial
dalam kehidupannya. Konsekwensinya, terjadi "personal split" (personalitas yang
kontradiktif), di satu sisi merasa menjadi hamba yang saleh karena banyak melakukan haji,
namun di sisi lain, tanpa menyadari, menjadi hamba yang korup dalam berbagai bentuknya. ?
Pemahaman terhadap konsepsi ibadah di atas sudah masanya dirubah, direform, sehingga ummat
ini tidak lagi kehilangan banyak kunci-kunci syurga. Kunci-kunci syurga dalam bentuk
amal-amal kemasyarakatan, termasuk dalam pengelolaan negara dan bangsa. Untuk ini
(mengutip Eep), khutbah jum'at sudah harus dirubah isinya, yang selama ini melihat
pembicaraan mengenai hal-hal politis (tanpa bermaksud politiking), dianggap tabu. Sebab
hanya dengan menyadarkan ummat akan makna ibadah dalam proses amar ma'ruf, penegakan
keadilan dan penanaman motivasi agar ummat bangkit melakukan kewajiban dan memperjuangkan
hak, ummat akan terhindari dari prilaku penguasa yang cenderung memperbudak.
Ketiga, Hijrah Akhlaqiyah.
Yaitu perubahan perilaku, baik lahir maupun bathin (Al
Akhlaq wassuluk), ke arah yang islami. Akhlaq yang diajarkan oleh Islam sesungguhnya
adalah perilaku manusia yang universal. Satu contoh misalnya, ketika di musim haji anda
akan merasakan betapa "attitude" manusia akan beragam, termasuk yang sangat
"kasar" (melompat di atas kepala sesama yang lagi duduk berdzikir) misalnya.
Padahal, dalam hadits disebutkan bahwa dilarang duduk di antara dua orang tanpa seizinnya
(hadits). Lalu bagaimana melompati kepala orang?
Keempat, Hijrah 'Aqliyah Tsaqaafiyah.
Yaitu tekad untuk membenahi sistem pemikiran dan cara
pandang kita sebagai Muslim. Salah satu ajaran penting Islam dalam hal ini adalah bahwa
manusia telah dimuliakan dengan kemampuan intelektual ('allama Aadam). Oleh sebab adalah
pengingkaran terbesar terhadap ni'mat Allah jika kemampuan ini tersia-siakan, dengan
mengekor kepada cara pandang orang lain tanpa reserve. Termasuk cara pandang dalam melihat
kehidupan misalnya. Amerika yang dipersepsikan sebagai "the most super power"
and by some others perceived to be the most civilized country, cenderung diikuti dalam
berbagai kebijakannya. Tanpa disadari sebagian ummat ini terlibat dengan prilaku ini, yang
seusngguhnya pada saat yang sama terjatuh dalam sebuah penjajahan baru, yaitu intellectual
colonization (penjajahan intellektual).
Kelima, Hijrah Usrawiyah.
Yaitu tekad dan komitmen baru untuk melakukan perubahan
dalam pola pembangunan keluarga. Keluarga disebutkan secara khusus karena keluarga
merupakan institusi terpenting untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam kehidupan
sosial kemasyarakatan. Gagalnya institusi keluarga merupakan kegagalan dalam institusi
kemasyarakatan yang lebih luas. ? Kalau selama ini, sebagian ummat terlalu
"materialistic minded" dalam membangun kehidupan keluarganya, mungkin sudah
masanya dilakukan pembenahan dengan peruabahan ke arah yang lebih seimbang antara
"material dan spiritual". Jika ummat terlalu termotivasi untuk mendidik anak ke
jenjang tertinggi, Ph.Ds dalam ekonomi, politik, dll. Mungkin sudah masanya dibarengi
dengan pendidikan tertinggi pula daklam hal kerohaniaan. Intinya, hijrah ke arah kehidupan
keluarga yang Islami, yang ditndai oleh kesuksesan dunia akhirat (fiddunya hasanah wa fil
aakhirati hasanah).
Keenam, Hijrah Ijtima'iyah.
Tekad dan komitmen dari semua anggota ummat ini untuk
melakukan perubahan- perubahan ke arah yang lebih positif dalam kehidupan jama'ahnya,
dalam segala skala kehidupannya, baik politik, ekonomi, legal dan hukum dll. Untuk
mencapai perubahan ini, diperlukan strategi-strategi yang sesuai, yang menuntut kemampuan
ijtihadiyah dari anggota ummat ini. Mungkin akan keliru, jika ada di kalangan ummat ini
yang mengakui bahwa metode pencapaian jama'ah islam (istilah apapun namanya, negara atau
khilafah islamiyah) adalah miliknya semata. Berbagai kelompok, yang berada pada jalur ini
(upaya pencapaiannya), berada pada persimpangan "ijtihadi" yang mungkin benar
dan mungkin salah. Yang pasti, bahwa memang ada perbedaan kadar kebenaran dan kesalahan
yang dimiliki masing-masing kelompok tersebut. Tinggal bagaimana agar kebenaran yang ada
pada masing-masing pihak dapat dikoordinasikan sehingga mampu menutupi
kekurangan-kekurangan yang ada.
Demikian sekilas refleksi hijrah. Selamat Tahun Baru 1422
H. Semoga perjalanan kita, dalam setiap langkah yang diambil mendapat ridha dan hidayah
serta ma'unah Allah SWT.
Wassalam
M. Syamsi Ali - New York |